Ketahuilah aku disini tidak pernah berani untuk beranjak pergi. Bukan masalah kenyamanan yang aku dapatkan. Aku gelisah sepanjang hari. Aku gelisah menunggu mu pulang. Aku gelisah membuka pintu kehidupan. Aku bahkan cenderung takut di gelap malam ruangan hati ini. Tapi anehnya aku malas sekali beranjak dari kepengapan ini. Aku masih mencoba mencari makna keanehan ini. Berhari-hari aku selalu menunggu kau pulang ketika kau sudah disampingku aku tak punya alasan untuk memulai percakapan. Aku selalu mendahuluimu untuk mengakhiri sebuah pertemuan kecil.
Di dalam ketidakpastian ini aku mencoba menikmatinya. Aku mengikutimu berlari kemanapun kau pergi meskipun diakhir tujuanmu kau tak pernah benar-benar menganggapku ada. Kau sudah bahagia dengan duniamu sendiri sehingga aku hanya dapat melihatmu tersenyum bahagia bukan karena aku. Aku sudah cukup bahagia tetap berada di setiap keluh mu. Meskipun kau memang tak pernah menghiraukan nasehatku. Aku ibarat angin lalu yang selalu berharap bisa menyejukkanmu.
Posted by Okta Saputra in Esai
Popular posts
-
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah. Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza. Tapi, aku ingin habiskan ...
Tentang Diam
- Okta Saputra
- Seorang yang sedang belajar berpetualang. Lahir hari minggu tepat jam 10 pagi. Pengagum senja dan penikmat fajar. Melarikan kesendirian dengan diam. Menyayangi seorang dengan diam.
