Apa kabar sayang ?
Masikah kau selucu kemarin ?
Bermain asa di lingkaran kefanaan
Masikah kau sehebat kemarin ?
Menantang buih prahara nestapa
Sudah berapa kali kau menangis di peluku
Memberontak paksa untuk bebas
Tapi aku terlalu egois untuk membiarkan mu diam
Aku menertawakan tangisan manjamu
Kau tetaplah anak kecil yang risih dicumbu
Tapi aku bahagia bisa menciummu hingga kau susah bernafas
Aku terlalu sayang denganmu meski kau belum paham
Tapi keyakinanku lah yang sanggup untuk merasakan
Sepertinya kau sudah mengerti permaninan
Terakhir kali ibu mu minta wayang kepada ku
Tapi maaf sayang aku hanya bisa menyangkupi tanpa memberi kepastian
Aku tetap sayang kamu zain, keponakan manisku.
Posted by Okta Saputra in Puisi
Diberdayakan oleh Blogger.
Popular posts
-
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah. Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza. Tapi, aku ingin habiskan ...
Tentang Diam
- Okta Saputra
- Seorang yang sedang belajar berpetualang. Lahir hari minggu tepat jam 10 pagi. Pengagum senja dan penikmat fajar. Melarikan kesendirian dengan diam. Menyayangi seorang dengan diam.
